Percepatan Penurunan Stunting, Pemko Tebing Tinggi Gelar Intervensi Serentak 2026

Pemerintah Kota (Pemko) Tebing Tinggi terus mempertegas komitmennya dalam mempercepat penurunan angka stunting. Langkah ini diwujudkan melalui Orientasi Pemantauan Tumbuh Kembang Balita Berisiko Stunting dan Pelaksanaan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting (ISPS) yang digelar di Aula Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi, Rabu (5/8/2026).

Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Tebing Tinggi, Erwin Suheri Damanik, menegaskan pentingnya pengawalan pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai masa emas tumbuh kembang anak. Menurutnya, kekurangan gizi kronis pada fase ini berisiko fatal terhadap produktivitas anak di masa depan.

"Semua pihak harus memahami bahwa pencegahan stunting adalah investasi jangka panjang untuk generasi masa depan," tegas Sekdako.

Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh camat dan lurah se-Kota Tebing Tinggi ini menjadi bukti nyata penguatan sinergi lintas sektor. Penanganan stunting ditegaskan tidak lagi hanya menjadi beban tenaga kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh jajaran pemerintah daerah.

Upaya berkelanjutan Pemko Tebing Tinggi sejauh ini membuahkan hasil positif. Berdasarkan data aplikasi e-PPGBM, prevalensi stunting di Kota Tebing Tinggi berhasil ditekan dari 1,53 persen pada tahun 2025 menjadi 1,44 persen pada tahun 2026. Sementara itu, laporan SIGIZIKESGA per Juni 2026 mencatat dari 9.222 balita yang diukur, terdapat 123 balita yang terindikasi mengalami stunting.

Di tingkat tapak, peranan kader Posyandu menjadi ujung tombak pemantauan. Salah seorang kader Posyandu mengungkapkan bahwa jemput bola dan pemeriksaan rutin terus dilakukan secara optimal. Ia menegaskan, para kader berupaya memastikan seluruh balita hadir ke Posyandu, dan jika ditemukan anak dengan berat badan yang tidak naik, kader akan langsung merujuknya ke puskesmas terdekat untuk penanganan lebih lanjut.

Sebagai bagian dari gerakan nasional, Program ISPS 2026 di Kota Tebing Tinggi menargetkan capaian seratus persen di berbagai lini utama. Target tersebut mencakup pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) bagi seluruh ibu hamil, penimbangan dan pengukuran panjang atau tinggi badan seluruh balita menggunakan alat antropometri terstandar, rujukan langsung ke puskesmas bagi kasus gizi bermasalah, serta pemberian edukasi pencegahan stunting kepada ibu hamil dan keluarga balita.

Pelaksanaan ISPS di Tebing Tinggi ini juga diperkuat lewat penerapan strategi 10 Pasti, yang mencakup ketersediaan alat antropometri terstandar, pemberian kapsul Vitamin A dan obat cacing, monitoring dan evaluasi rutin, hingga pencatatan sistematis pada aplikasi SIGIZIKESGA.

Program ini didukung penuh oleh kolaborasi lintas kementerian dan lembaga nasional, seperti Kemenkes, Kemendagri, BKKBN, Kemendes dan Bappenas yang memberikan dukungan dalam bentuk bantuan sosial tunai/non tunai bagi keluarga miskin dengan balita bermasalah gizi. Sementara akses sanitasi dan air bersih dari Kementerian PUPR, Program sembako dan PKH dari Kementerian Sosial serta Jaminan kesehatan melalui PBI JKN.

Melalui keterpaduan langkah dan komitmen yang berkelanjutan ini, Pemko Tebing Tinggi optimistis langkah ini akan menjadi instrumen strategis dalam mempercepat pencapaian target penurunan stunting.

“Harapan besar kami adalah terwujudnya generasi Kota Tebing Tinggi yang bebas dari stunting, sehat, cerdas, dan produktif, sehingga mampu menjadi fondasi kuat bagi pembangunan daerah dan masa depan bangsa," pungkas Sekdako.